GALAGALA.ID, Sukasari, –Dalam upaya memulihkan ekosistem pesisir dan menahan laju abrasi yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Pantai Utara Kabupaten Subang, Yayasan Lingkungan Nusantara Indah (YLNI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dengan menggelar kegiatan penanama.
Kawasan hutan yang dipilih untuk ditanami 1.500 pohon mangrove berada di hutan PTS dan anak petak 21. Program ini dilaksanakan secara bertahap sejak Rabu, 15 hingga 25 Oktober 2025, dengan
melibatkan masyarakat pesisir, pelajar, dan berbagai pihak pemerhati lingkungan.
Kegiatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari gerakan nyata yang sudah lama diperjuangkan YLNI untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Subang yang selama ini mengalami tekanan cukup berat akibat abrasi, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim.
Menurut Pembina YLNI, Endra Priatna, kondisi pesisir Subang kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Banyak area yang dulunya menjadi lahan hijau dan habitat alami kini tergerus air laut hingga puluhan meter setiap tahun.

“Kami tidak bisa menunggu abrasi menelan lebih banyak lahan masyarakat. Akar-akar mangrove adalah penjaga garis pantai terakhir kita. Jika tidak segera dipulihkan, Subang Utara akan kehilangan identitas pesisirnya,” ujar Endra Pembina YLNI saat membuka kegiatan penanaman di kawasan Anggasari.
Tentu saja dalam pelaksanaannya dilakukan berdasarkan petunjuk dari Asper Pamanukan Perum Perhutani KPH Purwakarta dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat pasca disurvei lapangan dan menentukan area yang paling sesuai untuk rehabilitasi mangrove. Pada hari pertama kegiatan YLNI didampingi langsung oleh Cece Rahman, S.Sos dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Subang.
“Kami sangat mengapresiasi langkah YLNI. Penanaman mangrove seperti ini bukan hanya bermanfaat untuk menahan abrasi, tapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga pesisir,” tutur Cece Rahman.
YLNI sendiri telah menjadikan kegiatan penghijauan dan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu fokus utama gerakan lingkungan hidup di wilayah Pantura. Pada kegiatan kali ini, jenis mangrove yang ditanam antara lain Rhizophora mucronata (bakau hitam), Avicennia marina (api-api), dan Sonneratia alba (perepat) — ketiganya dikenal memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi pesisir berlumpur dan gelombang laut yang kuat.

Setiap bibit mangrove ditanam dengan jarak sekitar dua meter agar akar tidak saling bersaing dan dapat menahan lumpur lebih baik. YLNI juga melibatkan kelompok tani hutan, nelayan, serta pemuda pesisir dalam seluruh proses kegiatan — mulai dari pengumpulan bibit hingga perawatan setelah penanaman.(Redal) ***




