Para nelayan yang mendapatkan kredit mesin kapal tidak dibebani bunga. Termasuk cicilannya pun disesuaikan dengan penghasilan nelayan itu sendiri.
Apalagi pendapatan harian mereka tidak tetap, berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp400 ribu.
“Yang jelas kami sesuaikan dalam pembayarannya, walaupun targetnya harus lunas dalam kurun waktu setahun,” kata Ketua KUD yang sudah malang melintang mengelola koperasinya.
Sebagai imbal baliknya, lanjut Ono Taryono, warga nelayan di Rawameneng turut serta menjaga keamanan aset Pertamina yang tersebar di lepas pantai Blanakan. Seperti halnya sekarang sedang ada aktivitas pengerjaan pemasangan pipa bawah laut sejak bulan Juli 2024 sampai dengan Januari 2025 mendatang.
Disambut Baik

Para nelayan yang ada di Rawameneng pun menyambut baik berbagai bantuan yang telah digulirkan oleh PHE ONWJ. Termasuk kredit bergulir mesin tempel kapal yang dinilai lumayan harganya.
“Kalau kami harus membeli baru tentu saja cukup mahal, tetapi dengan membayar cicilan yang disesuaikan penghasilan. Tentu saja sangat membantu dan bersyukur sudah lunas,” kata nelayan yang bernama Samin (50).
Dirinya mengaku dengan adanya mesin tersebut cukup membantu dalam menjalankan kapal miliknya yang berukuran 5 GT. Malahan mesin bantuan menjadi mesin utama, sedangkan yang lama menjadi cadangan. ” Lumayan bandel juga mesinnya, padahal sudah digunakan lebih dari setahun,” ujarnya.
Demikian pula diungkapkan nelayan lain yang memperoleh program kredit bergulir mesin tempel kapal. Salah satunya Ratim (57) yang mengaku bersyukur dan berterima kasih atas bantuan kredit yang cukup murah dan terjangkau dalam cicilannya.
“Dengan adanya mesin baru ini, kita dapat mencari ikan agak jauh dari biasanya. Selain tak takut mogok juga mesinnya handal dan terpercaya serta bahan bakarnya masih irit. Pokoknya terima kasih kepada Pertamina, ” ucapnya.
Nelayan yang belum kebagian mesin pun mengaku bersabar menunggu dan berharap ada tambahan modal lagi sehingga tidak menunggu perguliran dari pengambil yang sudah. “Kita selalu menyambut baik setiap bantuan dari Pertamina, dan alangkah baiknya untuk kebutuhan langsung nelayan lebih diprioritaskan,” kata Herman.




