Jelang Akhir Tahun, BMKG Wanti-wanti Potensi Cuaca Ekstrem

GALAGALA.ID, Jakarta,-Menjelang pergantian tahun, masyarakat diimbau lebih siaga terhadap kondisi cuaca. Berdasarkan analisis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Indonesia diprediksi meningkat signifikan pada periode Desember 2025 hingga Mei 2026.

Beberapa wilayah bahkan diperkirakan akan menerima hujan lebih dari 300 mm per bulan yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga gangguan akses transportasi.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) menggambarkan situasi atmosfer selama Desember hingga Februari sebagai jalur ‘padat berbaur’, tempat beragam sistem cuaca bekerja secara bersamaan, mulai dari monsun Asia hingga pengaruh siklon tropis yang muncul di belahan selatan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, memaparkan bahwa dinamika atmosfer berskala global, regional, dan lokal tengah aktif dan bisa memicu cuaca ekstrem di Tanah Air.

“Gelombang Rossby Ekuator, Gelombang Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO) masih berkontribusi pada dominasi hujan di banyak wilayah Indonesia,” ungkap Guswanto dalam keterangan resminya, Kamis (4/12).

Ia menjelaskan memasuki bulan Desember, hembusan angin monsun dari wilayah Asia menuju Australia mulai menunjukkan intensitas yang meningkat. Daerah seperti Laut China Selatan dan sekitar Natuna sudah mencatat kecepatan angin lebih dari 18 km/jam.

Namun di beberapa laut di Indonesia, seperti Selat Karimata hingga Laut Banda angin masih bergerak lebih lambat.
Puncaknya akan terjadi pada bulan Januari, ketika monsun Asia mencapai kekuatan maksimal. Angin kencang merata di banyak perairan Indonesia dengan kecepatan lebih dari 18,5 km/jam, yang otomatis memicu kondisi laut yang lebih bergelora dan gelombang yang berpotensi melebihi 1 meter.

Memasuki bulan Februari, musim hujan biasanya mulai melemah, meski kondisi laut belum sepenuhnya tenang, terutama untuk wilayah yang berhadapan langsung dengan samudra lepas.

Pengaruh gelombang alun & siklon tropis
Selain angin monsun, gelombang alun atau gelombang besar dari Samudra Hindia dan Pasifik juga meningkatkan gelombang tinggi, terutama di perairan barat Sumatera, selatan Jawa-NTT, serta wilayah Papua. Pada periode yang sama, munculnya siklon tropis di belahan bumi selatan memperkuat angin dan menaikkan gelombang di perairan selatan Indonesia.

BMKG menekankan bahwa atmosfer Indonesia juga mempengaruhi berbagai fenomena lain, mulai dari ENSO dan IOD yang bersiklus tahunan, hingga gelombang atmosfer seperti MJO, Kelvin, dan Rossby yang bergerak dalam rentang mingguan. Kemudian, dinamika harian seperti angin darat-laut, serta fenomena lintas daerah seperti Cold Surge dan Borneo Vortex.

Struktur kepulauan Indonesia yang berlapis-lapis dengan banyak celah, gunung, dan lembah membuat aliran angin tidak pernah bergerak lurus. Pola angin yang membelok inilah yang kemudian membentuk variasi gelombang dan cuaca yang sangat beragam antarwilayah.

Kondisi topografi Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau serta ratusan pegunungan menyebabkan aliran angin tidak bergerak lurus. Angin sering melaju mengikuti celah di antara pulau, gunung, bukit, dan lembah, sehingga menghasilkan pola angin dan gelombang yang beragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *