Bandung, Galagala.Id,- Tantangan bagi perkembangan industri pertahanan nasional masih sangat luas. Untuk itu dibutuhkan terobosan dan kolaborasi antara pemerintah,
industri pertahanan dan pengguna alat utama sistem persejataan (alutsista).
“Kami mencatat setidaknya masih ada lima soal besar yang menjadi tantangan industri pertahanan nasional. Dari soal tingkat komponen dalam
negeri (TKDN), hingga integrasi ekosistem industri pertahanan dalam negeri,” ungkap Direktur Operasi PT LEN, perusahaan induk Holdin
Defend.id, Tazar Marta Kurniawan.
Dalam seminar Industri Pertahanan Nasional 2023 di kampus ITB, Senin
(20/11/2023) lalu, Tazar pun mengungkapkan tantangan industri pertahanan nasional, di lantaranya belum adanya regulasi khusus terkait penghitungan TDN.
“Sejauh ini belum ada TKDN yang mengatur tentang industri pertahanan,
karena tingkat kompleksitas yang tinggi dari produk pertahanan,’ ungkapnya
Tantangan lainnya, lanjut dia, soal keterbatasan kapabilitas industri hulu dan Komponen dalam negeri yang belum memenuhi spesifikasi militer.
Kondisi itu menjadikan tingginya nilai impor.
Menurut Tazar, ekosistem industri pertahanan dalam negeri juga belum
terintegrasi. “Saat ini diperlukan sistem pertahanan yang lebih efisien
dan cepat untuk pemenuhan kebutuhan end user di dalam melakukan investasi alutsista, termasuk pemeliharaan dan perawatan,” sebutnya
Ke depan, dia berharap terciptanya produk pertahanan dengan nilai TKDN
yang lebih tinggi untuk bersaing dengan perusahaan lain pada proses tender. “Kita juga perlu mencontoh sektor pertambangan yang sudah
mengimplemtasikannya, meski belum merata,” pungkas Tazar.
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Industri Pertahanan, Kementerian
Pertahanan, Dedy Laksmono menyatakan pemerintah memiliki ekspektasi
tinggi terhadap industri pertahanan. Di antaranya dalam soal kemandirian.
“Pemerintah berharap industri pertahanan dalam negeri membangun
kemandirian teknologi, serta mampu meningkatkan daya saing industri
pertahanan,” ujarnya.
Dia menambahkan ekspektasi lainnya ialah industri pertahanan dalam
negeri mampu menjadi bagian dalam rantai pasok global. “Industri pertahanan Indonesia diharapkan menjadi bagian dalam rantai industri
pertahanan global dengan menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan pertahanan dan teknologi tinggi di tingkat internasional,” katanya.
Harapan lainnya, lanjut Dedy, ialah di bidang inovasi, dengan mampu menyediakan solusi cerdas dalam mendukung kebutuhan alutsista dalam
negeri. “Industri pertahanan juga diharapkan mampu berperan sebagai
penggerak dalam berkembangnya ekosistem industri dalam negeri,”
tandasnya. (Redal)***




