GALAGALA.ID, Blanakan,- Kasus Perundungan yang mengakibatkan korbannya tak berdaya, diduga kembali terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jayamukti, Kecamatan Blanakan, Subang.
Peristiwanya sendiri masih dalam penyelidikan pihak kepolisian sektor setempat. Namun korbannya kini dalam kondisi lemah dan terbaring setelah mendapat perawatan. Korban yang duduk di kelas 6 inipun harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami retak tulang di bagian leher.
Saat jurnalis datang ke rumah korban, sudah ada dari Mapolsek meminta keterangan. Menurut ibu korban, peristiwanya pada Rabu (1/4/2026) sekira pukul 13.30 Wib usai berolahraga dan korban bersama temannya berlanjut saling pijat.
Tanpa diduga datang M dan langsung melintir kepala korban hingga kesakitan dan pingsan. Melihat demikian, teman-temannya membawa korban A ke rumah orangtuanya.
Kapolsek Blanakan melalui Kanit Reskrim Aiptu Haris belum bisa menyimpulkan dan masih mengumpulkan berbagai keterangan dan bila sudah lengkap akan diserahkan ke Mapolres Subang untuk tindak lanjutnya. “Kalau di sekolah korban pernah terjadi perundungan atau bulying dan korban akhirnya meninggal dunia, benar, ‘katanya.
Meninggal Dunia
Sebagaimana yang pernah diberitakan, perundungan yang terjadi pada tahun 2024 di bulan Nopember sempat me dapat perhatian serius mengenai perlindungan anak dan bahaya perundungan di lingkungan sekolah dasar di wilayah Pantura Subang.
Sebab ada korban siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Blanakan, berinisial AR (8), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan atau bulying dan penganiayaan oleh kakak kelasnya.
Saat itu korban duduk di kelas 3 dan diduga pelakunya duduk di kelas 4 dan 5 dan korban sempat menjalani perawatan intensif di ICU RSUD Ciereng, Subang, selama beberapa hari dalam kondisi koma sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Senin, 25 November 2024.
Perundungan dan penganiayaan tersebut diduga terjadi karena korban menolak memberikan uang kepada para pelaku. Kejadian ini pun mengundang keprihatinan Bupati Subang saat itu pejabatnya, Dr. Imran, termasuk saat pemakaman pun Kapolres Subang turut menghadirinya.
Pasca kejadian, Kepala Sekolah terkait dikabarkan dinonaktifkan. (Redal) ***




