23.4 C
Indonesia
More

    Pengabdian Masyarakat LPPM UNJ bekerja sama dengan Dudi UMKM Al- Fiber,Cijoged, Desa Cikadu, Subang

    UMKM Al Fiber
    Subang tingkatkan nilai tambah (Value Added) khususnya nilai ekonomis dan nilai fungsi dari daun nanas yang selama ini banyak dibuang atau belum termanfaatkan secara optimal.

    Subang, Galagala.Id,- Puluhan mahasiswa Prodi Pendidikan Tata
    Busana Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta(FT UNJ) melakukan kunjungan ke sentra Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)Al Fiber Kp. Cijoged, RT.001/RW.001, Cikadu, Kec. Cijambe, Kabupaten Subang sekaligus kerjasama menyerap ilmu dan wawasan pengolahan limbah daun nanas menjadi bahan dan kain tenun

    Kunjungan yang difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)UNJ ini sekaligus untuk kerjasama dan  merealisasikan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dalam bidang pelatihan.

    Para hasiswa pun didampingi tim Program Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) Fakultas Teknik UNJ terdiri dari Dr Dewi Suliyanthini, M.Noerharyono MPd. Dr Ahmad Rifqi Ash Shiddiq
    dibantu oleh Icha Haerunisa dan Arsyanda.

    “Kami datang ke sana ” untuk mengaplikasikan sustanaibel limbah tanaman
    khususnya daun nanas menjadi produk textile untuk fashion. Dimulai dari pemilihan bahan baku, ” kata Dr Dewi, Senin(20/5/2024) usai melakukan kunjungan.

    Menurutnya secara gamblang para mahasiswa prodi pendidikan tata
    busana bisa mengetahu
    bagaimana cara menyortir mengklasifikasikan panjang pendeknya daun nanas.

    Proses ekstraksi
    menjadi serat, proses pembersihan, proses pengeringan, proses penghalusan dengan dekortikator,
    dan proses Quality Control.

    Selanjutnya serat dipintal menjadi benang, yang siap di tenun dengan
    ATBM (alat tenun bukan mesin) menjadi kain. Proses pembuatan kain menggunakan benang Lusi (arah
    vertical) benang katun hal ini agar kain kuat dan nyaman dengan daya serap kain yang baik, untuk
    benang arah horizontal (benang pakan) menggunakan benang serat daun nanas.

    Teknik menenun kain
    menggunakan rumus anyaman polos 1/1 yaitu 1 benang pakan naik pada 1 benang lusi. Demikian
    selanjutnya, dan anyaman kepar 3/1 yaitu 3 benang lusi naik pada 1 benang pakan dan seterusnya.


    Juga anyaman domino, anyaman satin. Kegiatan ini sangat memberikan wawasan skill dan
    pengetahuan baru bagi mahasiswa agar dapat mengembangkan ide membuat produk fashon dari daur
    ulang daun nanas , sesuai dengan bidangnya, mahasiswa Pendidikan Tata Busana harus dapat
    berkompetisi dalam penciptaan produk dan keterbaruan produk fashion.

    Para mahasiswa pun tampak menyenangkan saat diberikan materi dan praktek. Bahkan jalan menuju ke daerah Cikadu, Cijambe cukup menantang dan penuh pemandangan yang menawan.

    “Kami tim P2M menghaturkan banyak terimkasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Jakarta, serta pada Dunia Usaha dan Industri  UMKM Al Fiber yang dibina oleh Pa Alan,”ungkap Dr.Dewi.

    Ketua UKM Alfiber,Alan Sahroni  memelopori usaha tersebut. Sejak April 2013 hingga saat ini, jebolan Sekolah Teknologi Tekstil Bandung pada 2010 itu berupaya mengolah daun nanas menjadi serat daun nanas. Produknya pun sudah diekspor.

    “Saya memulai usaha ini dengan berbekal satu unit Mesin Dekortikator hasil dari hadiah lomba business plan pada 2012. Alhamdulillah, saat memulai usaha ini ini mampu mengolah daun nanas sebanyak 150 kilogram setiap hari dan mampu menghasilkan serat daun nanas kering rata-rata 3 – 3,5 kg/hari,”jelas  Alan.

    Menurut dia, serat daun nanas merupakan salah satu serat alam yang tergolong dari jenis serat selulosa atau tumbuh-tumbuhan. Serat daun nanas (pineapple–leaf fibres) adalah salah satu jenis serat yang berasal dari tumbuhan (vegetable fibre) yang diperoleh dari daun-daun tanaman nanas yang diekstraksi, kemudian dibersihkan dan dijemur hingga kering. “Proses ekstrasi atau pembuatan serat daun nanas ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu secara manual dan menggunakan mesin dekortikator,” ujarnya

    Pembuatan secara manual diawali dengan proses perendaman untuk memisahkan zat perekat pada daun nanas. Selepas itu dikerok menggunakan pisau atau alat khusus. Adapun pembuatan serat nanas menggunakan mesin dekortikator dilakukan pada kondisi daun dalam keadaan segar dan basah. Dengan demikian, dapat memudahkan pemisahan zat-zat yang ada disekitar serat dan menghindari kerusakan pada serat. “Daun-daun nanas yang telah mengalami proses dekortikasi, kemudian dicuci dan dikeringkan melalui sinar matahari, atau dapat dilakukan dengan cara-cara yang lain,”pungkasnya..

    Serat daun nanas sendiri ternyata memiliki sifat yang lembut, halus, kuat dan berkualitas baik untuk dijadikan kain dari serat alam baik kain tenun maupun kain non woven. Selain itu produk akhir yang dapat dihasilkan dari serat nanas antara lain tirai penutup jendela, wall paper (kain pelapis dinding),  bahan baku kertas (pulp), berbagai jenis kerajinan seperti tas, gorden, rambut palsu, fiber interior mobil, tambang, jala ikan, dan bahan baku pembuatan furnitur seperti meja, papan, asbes, dan lain sebagainya.

    (Rls/Redal)***

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Related articles

    Recent articles