Simulasi ini akan dilakukan secara piloting di satu sekolah yakni SDN 1 Dangdeur yang dipilih untuk bulan September, kemudian akan ada lembaga penyedia serta akan mengukur dampak dari program simulasi tersebut.
“Kegiatan ini akan dilakukan dalam waktu satu bulan di SD ini sebagai uji coba dengan melibatkan kurang lebih 216 siswa,” ucapnya.
Imran mengatakan, sebelum dilakukan simulasi ini telah dilakukan pengukuran berat badan hingga pada status gizi oleh Dinas Kesehatan dalam hal ini Puskesmas setempat yang bekerjasama dengan Persagi.
Berikutnya, demi menjaga kenyamanan Pemda Subang juga melakukan pendataan kepada peserta didik terhadap makanan apa saja yang berpotensi mengakibatkan allergi.
Selanjutnya, dirumuskan juga menu harian yang takaran gizinya sudah ditentukan berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan.
Sebetulnya Pemda Subang telah mencanangkan program ini lewat APBD sesuai dengan arahan Pj Bupati Subang di enam SD di tiga kecamatan perwakilan dari kewilayahan di Kabupaten Subang.
Di bagian Utara diwakili oleh SDN Sukahaji dan SDN Tunasjaya, di bagian Selatan diwakili oleh SDN 1 Cibitung dan SDN 2 Cibitung, serta di bagian tengah diwakili oleh SDN Panembong dan SDN 1 Dangdeur.
Penatapan lokasi program tersebut berdasarkan kriteria yang ditetapkan, diantaranya seperti angka partisipasi kasar yang masih rendah, kantung kemiskinan, dan kasus stunting.

Terakhir, Imran mengatakan bahwa Pemda Subang memiliki sumber daya yang terbatas, maka dari itu jika tanpa keterlibatan berbagai pihak dan stakeholder yang ada di Kabupaten Subang menurutnya banyak kebijakan-kebijakan yang tidak terlaksana, khususnya yang bersifat nasional.
“Oleh sebab itu, saya menghimbau kepada seluruh pihak agar bisa terlibat untuk mendukung beragam macam program pembangunan yang ada di Subang,” ucapnya.(Yop/Redal)***




