GALAGALA.ID, Subang,- Gangguan distribusi air bersih dari Perusahaan Daerah (Perumda) kerap kali mendapat gangguan sehingga kualitas air tidak jernih. Gangguan teknis selalu bisa teratasi, tetapi yang non teknis dari alam terutama di musim penghujan sulit teratasi.
Selain kondisi alam, juga sarana berupa pipa susah cukup berumur, ditambah labilnya tanah di beberapa titik yang terlewati. Terselesaikan satu, kembali terjadi kerusakan di titik lainnnya.
Hal inilah yang menjadi renungan dan akhirnya jajaran Direksi Perumda Tirta Rangga Subang melalukan berinovasi melalui pembangunan Water Treatment Plant (WTP) di wilayah Cijambe. Selain untuk menanggulangi kulaitas juga penurunan debit air di musim kemarau.
WTP yang berlokasi di Gunung Tua, Cijambe, Subang ini. Semula hanyalah aerator dan dikembangkan serta dibangunlah beberapa bak penampung sebagai instalasi pengolahan air. Sebab, sebagaimana diakui oleh Direktur Utama Perumda Tirta Rangga Subang, Lukman Nurhakim, bahwa kondisi kekeruhan air tergolong ekstrem. Tidak hanya debit air yang menurun, kualitasnya pun ikut terdampak signifikan.

”Inilah hasil inovasi kita setelah diskusi juga dengan para ahli akhirnya kami bisa mendesain WTP dengan kapasitas maksimum di 140 per detik. Kami masih uji coba di range dari 80 sampai 120. Hasil uji coba WTP ini Alhamdulillah bisa menekan kekeruhan walaupun belum sempurna, ” ungkapya beberapa hari yang lalu saat meninjau ke lokasi WTP.
Proses penyempurnaan filtrasi masih terus dilakukan dan berhasil terus menurunkannya. “Nah itu kami masih proses uji coba dalam satu bulan terakhir ini. Alhamdulillah setelah kita diskusi panjang mendesain ketemulah modifikasi WTP yang mungkin membutuhkan biaya sampai 14-15 miliar rupiah. Tetapi kami berpikir keras dengan anggaran terbatas ketemulah dengan biaya efisien di 1,2 miliaran rupiah, “jelas Lukman dan apabila berhasil 100% mungkin bisa jadi temuan baru dalam pembangunan teknologi WTP.
Direktur Teknik (Dirtek) Perumda Air Minum Tirta Rangga Kabupaten Subang , Nana Ruhana, ST dalam pembuatan WTP tetap memiliki standar desain tertentu. Setiap kompartemen masing-masing ini mempunyai standar desain dan dengan anggaran terbatas tetap harus dioptimalkan.
“Saat ada pertemuan di Perdamaian, ternyata di Jawa Barat baru Subang yang berusaha membuat WTP dengan budget terbatas atau berbiaya rendah dan mungkin di Indonesia,” kata Nana.
Bahkan rekan rekan PDAM lain pun akan melakukan studi banding bila sudah 100℅. Sebab yang jadi daya tariknya, WTP ini karena berbiaya kurang dari 10% anggaran yang standar tetapi bisa diaplikasikan untuk pembangunan WTP Ini.

WTP sendiri merupakan sistem pengolahan air baku menjadi air bersih layak konsumsi melalui serangkaian proses penyaringan dan penjernihan, yang bertujuan menurunkan tingkat kekeruhan serta meningkatkan kualitas air.
Instalasi di Cijambe sendiri memiliki kapasitas produksi hingga 120 liter per detik, yang mampu menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat pelanggan di wilayah Cijambe, Subang, hingga Cibogo, termasuk ke depannya kawasan industri seperti VinFast.
Keberadaan instalasi ini sekaligus melengkapi enam WTP yang telah lebih dahulu beroperasi di wilayah Binong, Compreng, Pamanukan, Ciasem, Purwadadi, dan Kalijati.
Tak berhenti di WTP, Perumda TRS pun dalam waktu dekat akan menggandeng Perguruan Tinggi untuk segera melakukan riset terkait dengan kondisi air di lokasi WTP Cijambe yang kondisinya sulit diprediksi penyebab kekeruhannya.

”Kitapun akan tata lingkungan di WTP ini sehingga nantinya menjadi edu wisata bagi para pelajar, “pungkas Lukman.(redal) ***




