GALAGALA.ID, Subang,- Assyifa Peduli berkolaborasi dengan DKM Ar-Rahman PT. Evoluzione Tyres menggelar acara Nonton Bareng Film Hayya bersama yatim dalam kegiatan puncak Muharram Festival 1447 Hijriyah, Ahad (27/07/25), di Sams Studio, Subang.
Ketua Pelaksana Muharram Festival, Muhammad Cahaya, S.Tr.T menjelaskan kalau kegiatan ini untuk menghadirkan rasa bahagia dan edukasi dengan menyampaikan pesan kemanusiaan serta dakwah tentang kepalestinaan.

“Di luar sana banyak anak kecil yang tidak seberuntung kita. Di Palestina banyak anak-anak yang berjuang dan ditinggalkan oleh orang tuanya dalam keadaan darurat seperti sekarang,” ungkapnya.
Cahaya berharap dapat menumbuhkan nilai kemanusiaan dan memunculkan kepedulian terhadap saudara di Palestina. Dirinya berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam puncak acara ini.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh donatur, DKM Ar-Rahman PT. Evoluzione Tyres, dan seluruh pihak terkait yang telah mendukung acara ini. Kegiatan ini juga didukung penuh juga oleh Badan Wakaf Assyifa yang menyediakan 214 paket makanan untuk seluruh yatim,” ucapnya.

Sementara itu, Mitra Assyifa Peduli, perwakilan DKM Ar-Rahman PT. Evoluzione Tyres, Edi Jajang Atmaja, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan kegiatan positif yang akan terus didukung.
“Saat kami ditawarkan program ini, kami sangat tertarik. Sehingga kolaborasi bersama Assyifa Peduli untuk menonton Hayya3 bersama yatim terlaksana hari ini. Insyaa Allah filmnya sangat bagus, akan mendidik anak-anak dan secara tidak langsung akan membuat mereka lebih peduli terhadap Gaza. Kami dari DKM Ar-Rahman PT. Evoluzione Tyres mengucapkan terima kasih banyak, terutama kepada donatur Assyifa Peduli yang telah mendukung kegiatan ini. Mudah-mudahan menjadi berkah untuk kita semua. Insyaa Allah kami juga akan terus mendukung kegiatan-kegiatan positif sepeti ini,” tutur Edi.

Hadir pula dalam kegiatan ini, Kabag Kesra Setda Kabupaten Subang, Saeful Arifin, S.Kep., M.Si., mewakili Wabup Kabupaten Subang, yang mengapresiasi puncak Muharram Festival 1447 H.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dalam rangka menyambut bulan Muharram. Dengan santunan anak yatim, juga nonton bareng ini. Tontonan yang bisa dilihat oleh anak-anak terhadap kepedulian kepada Palestina. Saudara-saudara di sana juga kita doakan melalui kegiatan ini. Kegiatan seperti ini harus selalu ditingkatkan. Bukan hanya Muharram saja, tapi juga bulan-bulan selanjutnya,” pungkasnya.
Almira, salah satu yatim yang ikut dalam acara nonton bareng ini merasa senang menjadi bagian dari Muharram Festival Assyifa Peduli.
“Alhamdulillah seneng dan terima kasih sudah mengajak menonton saya dan teman-teman. Sedih dan terharu saat menonton film Hayya ini. Semoga Allah membalas kebaikan bapak dan ibu yang telah berdonasi melalui Assyifa Peduli,” tutur Almira.
Nonton Bareng Yatim ini merupakan puncak dari rangkaian Muharram Festival 1447 H Assyifa Peduli. Sebelumnya Assyifa Peduli bersama Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah telah melaksanakan kegiatan lomba-lomba, rampak bedug, serta santunan yatim dan tablig akbar bersama KH. Fikri Haikal Zainuddin MZ di Desa Tambakmekar.

Gaza Hayya 3
Film yang menceritakan persahabatan di Tengah Luka dan Harapan ini merupakan film drama keluarga Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Jastis Arimba. Film produksi Warna Pictures dan 786 Productions ini dibintangi oleh Cut Syifa, Amna Shahab dan Oki Setiana Dewi.
Dikisahkan ada seorang anak bernama Abdullah Gaza, tersimpan kisah kehilangan yang mendalam. Bocah delapan tahun ini harus menelan kenyataan pahit: kehilangan sang ayah, seorang relawan kemanusiaan yang gugur usai menjalankan misi terakhirnya di Palestina. Kepergian ayahnya bukan hanya merenggut sosok pelindung, tapi juga arah hidup Gaza yang masih rapuh.
Gaza kemudian diasuh di sebuah panti asuhan sederhana yang dikelola oleh Ustazah Dewi dan adiknya, Rafa Syafira. Di tempat itu, ia dipertemukan dengan Hayya, seorang gadis kecil asal Palestina yang telah empat tahun menjadi pengungsi di Indonesia. Di balik sikap pendiamnya, Hayya menyimpan luka akibat genosida yang memaksanya meninggalkan tanah kelahiran.
Pertemuan Gaza dan Hayya bermula dalam diam, namun perlahan tumbuh menjadi persahabatan yang menghangatkan. Gaza, dengan kepolosannya, membawa tawa dan harapan kecil bagi Hayya. Sementara Hayya mengisi kekosongan hati Gaza yang ditinggal ayahnya. Keduanya saling menjadi pelipur luka.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ancaman baru datang menghantui mereka, membawa kembali rasa takut dan ketidakpastian. Gaza dan Hayya dipaksa menghadapi kenyataan pahit, sekaligus mencari makna sejati dari keluarga, keberanian, dan pengorbanan.
Gaza Hayya 3 bukan sekadar film tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan—tentang anak-anak yang tumbuh dari reruntuhan dan terus bermimpi di tengah dunia yang porak poranda.

Film ini menjadi pengingat bahwa di balik konflik yang tak kunjung usai, ada jiwa-jiwa kecil yang menanti masa depan.(Redal)***




