GALAGALA.ID, Subang,- Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Irjen Pol. Drs. Mashudi atas nama Menteri Kemenimipas RI memberikan apresiasi atas capaian Lapas Kelas IIA Subang yang berhasil melakukan pembinaan terutama merealisasikan program ketahanan pangan. Sebab hal ini sangat sejalan dengan visi besar pemasyarakatan yang ingin menjadikan lapas sebagai tempat pembinaan produktif.
“Ini luar biasa. Lapas bisa panen 12 ton padi dan ratusan kilo ikan. Ini tidak hanya soal pertanian, tapi ini tentang mengembalikan kepercayaan diri warga binaan, memberi mereka kesempatan untuk tumbuh dan kembali ke masyarakat sebagai pribadi baru,” ungkapnya usai panen raya dan bakti sosial bagi WB di Lapas Kelas IIA Subang, Sabtu (31/5/2025).
Dirjenpas berharap setiap Lapas harus memiliki brand atau identitas visual yang kuat untuk meningkatkan citra dan profesionalitasnya. Branding yang baik akan membantu Lapas untuk lebih dikenal dan dipercaya oleh masyarakat.
Demikian pula hasil olahan pembinaannya dan tidak menutup kemungkinan ada pabrik tersendiri di dalam Lapas. Di Jogyakarta produk WB sudah memiliki brand Bakpia batu 378 dan banyak yang lainnya. Termasuk program di tahun 2025 ini sedang dituntaskan seperti Lapas Perempuan dengan adanya loundry dan 6 hotel sudah siap berkolaborasi. “Dalam waktu akan dilounching produk jamu seger waras di lapas perempuan bekerjasama dengan Universitas Udayana,” katanya.
Terkait over kapasitas Lapas di seluruh Indonesia, Mashudi mengungkapkan kalau pihaknya sedang menuntaskan. 7 Lapas sehingga akhir tahun 2025 sudah bisa menampung. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya warga binaan setiap bulan, apalagi dengan gencarnya penangkapan premanisme.
Dirjenpas kembali mengingatkan dengan adanya branding yang baik merupakan investasi penting bagi Lapas untuk meningkatkan citra, profesionalitas, dan efektivitas dalam menjalankan tugas.
12 Ton Gabah Kering
Sementara itu, Kalapas Kelas IIA Subang, Gatot Harisaputro yang mendampingi Kakanwil Kemenimipas Jabar, Kusnali menjelaskan kalau Lapas Subang berhasil menunjukkan tak hanya menjadi tempat pembinaan narapidana, tetapi juga mampu berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional. Dalam sekali panen, lapas ini mampu memproduksi hingga 12 ton padi dan 600 kilogram ikan nila.
Panen kali ini merupakan hasil dari pengelolaan lahan seluas 36.972 meter persegi yang digarap langsung oleh warga binaan. Dari total tersebut, 23.000 m² digunakan untuk budidaya padi, sementara sisanya digunakan untuk hortikultura, singkong, dan kolam ikan nila.
“Alhamdulillah, dari lahan pertanian yang dikelola warga binaan, kami bisa memanen sekitar 10–12 ton gabah basah, dengan varietas unggulan Mekongga dan Inpari 32. Ini menunjukkan warga binaan memiliki kemampuan produktif yang luar biasa,” ungkapnya
Hasil panen padi tersebut akan dijual ke masyarakat dengan harga Rp6.900 per kilogram, berpotensi menghasilkan pendapatan hingga Rp82,8 juta per musim panen. Pendapatan ini kemudian dibagi untuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), premi bagi warga binaan, serta modal pertanian musim berikutnya
Tak hanya dari pertanian, sektor perikanan Lapas Subang juga tak kalah produktif. Gatot menyebut bahwa pada kesempatan ini dilakukan pula penebaran 80.000 ekor benih ikan nila, yang diproyeksikan akan dipanen dalam waktu dua bulan dengan estimasi berat mencapai 500–600 kilogram.
“Ini adalah bagian dari program kemandirian kami. Budidaya ikan nila ini nanti akan dijual ke petani ikan di Waduk Jatiluhur, menciptakan sinergi ekonomi antara lapas dan masyarakat luar,” katanya.
Gatot menegaskan bahwa capaian ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari strategi pembinaan jangka panjang yang berfokus pada kemandirian ekonomi dan penguatan keterampilan warga binaan.
Program ini didukung penuh oleh berbagai kebijakan nasional, seperti UU No. 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI, 13 Program Akselerasi Menteri Hukum dan HAM dan 21 Arahan Dirjen Pemasyarakatan
“Kami ingin memastikan warga binaan tidak hanya dibina secara moral, tapi juga siap kembali ke masyarakat dengan keterampilan nyata yang bisa dijadikan sumber penghidupan,” ujarnya.
Keberhasilan ini juga tak lepas dari dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Subang, yang memberikan pelatihan bersertifikat bagi warga binaan serta pendampingan teknis selama proses budidaya.
Selain panen raya, kegiatan ini juga dirangkai dengan bakti sosial berupa pembagian bantuan kepada keluarga warga binaan dan masyarakat kurang mampu di sekitar lingkungan lapas.
“Ini bentuk nyata bahwa lapas bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya tempat pembinaan tertutup,” tambah Gatot.
Dengan berbagai capaian ini, Lapas Kelas IIA Subang berharap dapat terus menjadi contoh praktik pembinaan yang menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan spiritual warga binaan. Gatot menegaskan, seluruh kegiatan diarahkan untuk membentuk warga binaan yang mandiri, produktif, dan berdaya saing saat kembali ke masyarakat.
“Ini bukan sekadar panen hasil bumi, tapi panen dari proses pembinaan yang terukur dan penuh nilai,” pungkas Gatot.




